Oleh: adhe | Agustus 9, 2010

Jernihnya Hati si Abang Becak

Menjelang Ramadhan ini, suasana hati dan lingkungan seperti ikut meneduh mencari berkah dari bulan yang suci diantara bulan-bulan yang lainnya. Nuansa ibadah lebih terasa kuat di bulan ini, mungkin inilah berkah bulan Ramadhan.

Ada beberapa ‘pesan’ tersembunyi yang aku terima secara tidak sengaja, yang mengingatkan aku pada satu hal, “sudah siapkah dirimu jika sewaktu-waktu harus menghadap-NYA ?”.

Jujur kalau mau ku jawab “aku belum siap dengan ‘bekal iman’ ku selama ini”, aku kembalikan lagi semua niat-niat baik semata-mata hanya karena-NYA, jika ternyata aku masih penuh dengan dosa, semoga bulan yang suci ini kembali membersihkan diriku dari niat-niat jahat dan dosa yang berkepanjangan, amien…

Beberapa hari yang lalu secara beruntun aku diingatkan kembali dengan ‘kewajiban’ yang harus aku persiapkan untuk menghadap-NYA kelak. Dari thread inbox yang dikirim oleh mba Reef, tentang kisah ‘Coma nya seorang mantan Pramugari’ yang didalam masa coma-nya dia mendapat ‘azab neraka’ yang digambarkan sama persis dengan yang tertulis dalam kitab suci Al-Qur’an, bahwa janganlah kita menafikan apa yang sudah diperingatkan dalam Kitab-NYA, bahwa penyesalan akan datang belakangan sudah tidak akan ada lagi gunanya.

Lalu aku juga membaca satu kisah nyata dari artikel yang dimuat dalam satu website, yang mengkisahkan bahwa siksa kubur itu ‘nyata adanya’ ketika seorang anak harus menggali kembali kuburan ayahnya, hanya gara-gara dia teringat bahwa passport miliknya ikut terkubur bersama mayat ayahnya, sehingga dia harus menggali kembali makam/kuburan ayahnya, pada saat dia membongkar kuburan itu terlihat bahwa kain kafan yang membungkus jazad ayahnya sudah tercerai berai dengan cipratan darah segar yang menempel di muka ayahnya. Bukankah ini pertanda bahwa siksa kubur itu ada? sebagai hamba-NYA yang berpikir, kita harus percaya bahwa peringatan selalu diberikan-NYA pada hamba yang selalu mau berpikir dan meyakini apa yang diperintahkan-NYA dan menjauhi apa yang dilarang-NYA.

Ada kisah lain yang tidak sengaja dituturkan oleh salah seorang relasiku, sebut saja namanya Pak Zul, “Bu, saya punya kenalan seorang abang becak namanya Pak Sholeh, yang ahlaqnya sangat mulia”, “Dia tidak punya apa-apa, hanya memiliki satu becak tua, yang menopang hidupnya sehari-hari”.

“Lantas apa istimewanya dari si abang becak itu?” tanyaku agak penasaran, “Istimewanya, setiap hari Jum’at Pak Sholeh ini selalu memberi tumpangan gratis buat para penumpangnya, dan setiap membawa penumpangnya, dia akan selalu memutarkan arah becaknya ke areal TPU,” jawab Pak Zul, sambil tersenyum.

“Maksud Pak Sholeh itu apa? tidak mau dibayar dan selalu memutar becaknya ke arah TPU?” makin penasaran aku dibuatnya. Pak Zul menjawab pertanyaanku dengan cara berkisah “Suatu hari ada seorang bapak, yang terkenal sangat kaya, dia secara kebetulan menaiki becak Pak Sholeh, seperti biasa beliau selalu memutarkan arah becaknya ke TPU, sambil menggenjot becaknya Pak Sholeh bertanya kepada si bapak yang jadi penumpangnya, “Pak, apakah bapak sudah siap dengan bekal iman? karena di hadapan kita ini adalah ‘rumah masa depan’ kita,”.

“Jadi bisa dibilang Pak Sholeh ini menarik becak sambil berda’wah?” tanyaku lagi sudah mulai faham maksud alur kisahnya, “Iya..” jawab Pak Zul lalu meneruskan kembali kisahnya, “Saat si bapak penumpang becak sudah sampai ke tempat tujuannya, dia mau membayar ongkos becaknya kepada Pak Sholeh, tetapi ditampik dengan halus oleh beliau, dengan ucapan “Terimakasih pak, ini hari Jum’at, saya tidak mau menerima ongkos becak setiap hari Jum’at karena saya sudah meniatkan tenaga saya sebagai sedekah yang saya bisa berikan pada orang lain karena Lillahi Ta’ala, saya orang miskin tidak punya harta benda tapi saya punya tenaga yang bisa saya sedekahkan semata-mata mengharap ridho-NYA” jawab Pak Sholeh sambil tersenyum lembut.”

“Subhanallah….” aku begitu terharu mendengarnya, “Lalu bagaimana reaksi si bapak penumpang itu?” tanyaku tak sabar, Pak Zul melanjutkan “Begitu mendengar alasan penolakan Pak Sholeh, si bapak kaya itu tiba-tiba menangis sambil berkata “Allah Maha Besar, aku yang sudah kaya ini ternyata masih menerima sedekah dari seorang abang becak yang tidak memiliki kekayaan apa-apa, sedang saya yang seharusnya lebih banyak bersedekah ternyata masih diingatkan oleh seorang abang becak untuk belajar bersedekah dan mempersiapkan bekal iman untuk kembali kepada-NYA,” lalu si bapak kaya itu melanjutkan ucapannya “Pak, karena bapak telah mengingatkan saya agar lebih dekat kepada-NYA, maka saya akan memberangkatkan bapak ke Tanah Suci dengan seluruh uang Zakat yang selama ini saya tidak keluarkan.”

“Allahu Akbar…” aku langsung mengucap takbir, begitu besarnya rizki dari Allah buat seorang abang becak yang hanya bersedekah dengan tenaganya dan berda’wah dengan lisannya.

“Pak Sholeh akhirnya berangkat haji dengan uang zakat dari si bapak kaya itu dan sampai sekarang dia tetap jadi tukang becak, yang setiap hari Jum’at selalu bersedekah dengan tenaganya dan selalu mengingatkan setiap penumpangnya dengan hari kematian,” tutup Pak Zul mengakhiri kisahnya dengan senyum, semoga kita selalu dalam ‘nikmat iman dan hidayah dari-NYA’ amien…

Bandar Lampung, 06082010.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: