Oleh: adhe | Mei 14, 2010

My Spiritual Journey (MSJ) 1

Dearest all my friends….baru sempat browsing net lagi nih via lappie, jadi ada kesempatan untuk mulai sharing kisah hajiku, secara bertahap…karena kesempatan dalam kesempitan waktuku yang tidak banyak, jadi kalau kisahnya harus dibuat bersambung harap maklum ya…saat aku posting part 1 ini, aku sedang menanti detik-detik kepulanganku dari Madinah menuju Mekkah kembali, kisah-kisah selama di Madinah Al Munawaroh akan aku share kemudian, yang kusampaikan dibawah ini baru kisah awal saat aku memulai proses perjalanan hajiku.

Keberangkatan dan Kedatangan
Pesawat yang aku tumpangi menuju ke tanah suci adalah Yaman Air, bertolak dari Bandara Sukarno Hatta pada tgl. 19 Nov 2009 Pk. 16.00 sore hari, penerbangan dari Jakarta – Sana’a terbilang lancar, nggak nemuin turbulence yang kuat, pelayanan dari awak kabinnya yah…standart lah, hanya ada satu Pramugarinya yang rada jutek, lha…masa’ temen yang duduk disebelahku mau minta Pepsi eh malah dikasih 7 Up, dia mau minta ganti Pepsi, di cuekin sambil rada ngedumel….yiahhh….gini ini nih…yang bikin males request.

Makanan yang disediakan di pesawat.

Kami tiba transit di Sana’a pada pk. 21.00, kurang lebih 5 jam transit, suasana di Sana’a sepi…ya jelas sampe malam hari, bandara internasionalnya nggak sebesar Suta. Aku yang ngantuk berat sempat tiduran dikursi ruang tunggu Bandara. Aku berangkat sendirian tanpa ada rombongan, ada juga rombongan dari group konsorsium tapi aku gak kenal sama orang-orangnya. Mama dan Papaku terpisah jadwal keberangkatannya, gak tau koq bisa terpisah keberangkatan kami, katanya sih alas an visa, sudahlah aku nggak mau berdebat panjang lebar, walau sebenarnya aku heran aja koq bisa terpisah? Selama transit kami diberi konsumsi cukup…wareg pokoknya! Selip dikit Warteg..hehehe.
Pk. 01.30 waktu Sana’a, pesawat Yaman Air membawa kami terbang ke Jeddah, nah….mulailah perjuangan haji dimulai dari Bandara. Harus sabar………….gimana nggak sabar, harus tarik-tarik koper berdesak-desakkan antara tua muda, laki-laki dan perempuan, antar bangsa, gak peduli semua berlomba-lomba ingin segera keluar dari Bandara Jeddah, tujuannya Cuma satu ingin segera sampai ke Mekkah.

Suasana di Bandara Sana’a, Yaman.

Jeddah
Tiba di Jeddah pukul 04.00 subuh waktu setempat, Jum’at 20 Nov 2009, tapi urusan imigrasi dan transportasi baru beres pukul 12.30, hebat yaaa…..teler..teler dah! Untung masih nemu nasi, krupuk sama kering tempe…wah nikmat rasanya bagi aku yang kelaparan, hehehe.
Aku yang sorangan wae, yah..hanya mikir badan seorang aja, walau perlu perjuangan juga untuk antri di Post Imigrasi dan melewati pemeriksaan aparat haji setempat, sebenarnya aku lumayan tenang karena ini haji yang kedua, minimal aku sudah pernah merasakan proses imigrasi yang lama dan melelahkan ini. Bandara khusus haji di Jeddah ini sebenarnya besar, tapi herannya tetep aja terkesan kurang effisien, nggak tau ya…banyak petugas haji tapi mereka nggak terlihat sigap, malah agak lamberta. Yasud…namanya juga di negeri orang, harap maklum ikut aturan yang punya Negara. Denger-denger semua bisa diatur asal ada ‘fulus’nya, yeee….semua juga tahu! UUD…ujung-ujungnya duit.
Tapi tetap aja ada bedanya, kalo dulu aku pergi bareng hubby yang siap memback-up urusan-urusan koper, kini aku pergi sendiri, otomatis urus sendiri lah yauuu…
Aku sempat ‘merasa kehilangan’ koper hitam kecilku, aku muter-muter nyari taunya itu koper sebenarnya ada dihadapan aku, hahahaha….kacauuu akibat kurang tidur, jadi mataku siwer-siwer. Sedang koper besarku tidak kubawa bersamaku, tapi dititipkan pada tour agentku, yang belakangan malah gak jadi berangkat. Alhasil….kemudian hari, aku pergi haji dengan nebeng baju Mamaku, huhuhuhuhu…..Mama I Luv U Full…..ampe beleber, gara-gara koper yang gak kebawa aku asli gak ‘Begaya FM’…padahal isi koperku itu baju-baju baru semua khusus untuk haji ini, mungkin ALLAH lebih menginginkan aku ‘tetap bersahaja’ nggak usah show off, buktinya aku harus nyadar ternyata aku emang gak boleh lebih gaya dari Mamaku, hehehe…huhuhu…!

Telepon
Selama masa menanti yang panjaaaang di Bandara Jedah, aku sibuk nelpon ke tanah air, tentu Hubby lah yang ditelpon, lapor Boss…semua under controle! Lalu Ayuk Thia Zein yang mukim di Mekkah, temen FB dan YM, awalnya sih kenal via Kompas Community (KoKi), lalu nelpon Cahaya Dammam (Tati) ini juga temen FS dan FB, pokoke gunakanlah jejaring social net workingmu saat di luar negeri, trus…aku juga nelpon Kak Ed (Bp.Edward Nizar) staf Konjen RI di Jeddah yang masih keluargaku. Intinya aku mau kasih tau bahwa ‘I am Here in Jeddah’..hehehe.
Aku sudah dibekali kartu sim card Al Jawal oleh sohibku Yuni, dari tanah air dengan nomor cantik pula, staf kantorku, keluarga dan sohib-sohib dekat sudah aku ingatkan nomor ini, yang kemudian hari malah aku ganti nomor dengan sim card Zein, hehehe…alasannya kartu Zein lebih wuss..wuss…browsing net nya via Hp Nokiaku, sorry Bros and Sis kalo susah menghubungiku selain ganti kartu juga jaringan crowded selama musim haji, harap maklum hehehe….
Aku yang asyik ngobrol ketawa ketiwi ditelpon lama-lama sadar, lha ini pulsa Al Jawal koq tinggal sekarat…alias S.O.S, waduuh harus beli lagi nih, aku memicingkan mata mencari counter pulsa, nah…itu dia STC, counter Al Jawal aku dekati, langsung beli pulsa 50 Real saja. Selanjutnya cukup sms untuk mensiasati pulsa biar gak sekarat lagi, hehehe…rupanya kelakuan aku yang asyik ngobrol sendirian sampai gak peduli ama yang lain, membuat beberapa jama’ah dari daerah Sulawesi Selatan, yang kebetulan berangkat dalam satu konsorsium yang sama, mendekatiku, awalnya hanya satu, dua dan tiga orang minta temenin beli pulsa telpon, sekalian ngebantu komunikasi dengan si penjual pulsa, maklum mereka kan hanya bicara pake bahasa ibu, kalo Cuma speak English buat beli pulsa, aku mah fine-fine aja, hehehe…selesai urusan beli pulsa, ternyata masih ada request lain lagi…”Mbak..tolong telponin ke anak saya, keluarga saya, tetangga saya” wookeh…selama aku bisa bantu, why not! Aku bantu mereka pelan-pelan sambil memberi informasi, kalau mau telpon ke tanah air, selalu gunakan kode ‘+62…’ diikuti dengan nomer telpon yang dituju, tetapi dengan menghilangkan angka ‘0’ dimuka, misal ‘+62812….’.
Sukurlah mereka segera faham, hanya yang bikin aku geli, kebanyakan ibu-ibu dan bapak-bapak yang sudah sepuh dibawain ‘anak-anak mereka’ HP yang sebelumnya mereka sendiri nggak common memakai HP itu sendiri, alhasil aku diminta membuka menu telpon dan mencarikan nama-nama anak mereka untuk ditelponin, jadi aku kasih arahan singkat gimana menggunakan HP tersebut secara ringkas. Kalau HP yang digunakan sekelas Nokia mah friendly User banget, nah yang repot…jika yang digunakan HP Pochin (Ponsel China)…..ampuuun aku dibuat bingung cara pakainya, kalo model mah gak salah-salah jiplak Nokia bahkan model Blackberry, tapi ya…gitu deh parah penggunaannya, sorry yaaah…..bukannya aku gak suka HP Pochin, hanya nggak common aja. Ujung-ujungnya yang minta bantuanku makin bertambah…ambil berkahnya aja, aku malah dibilang ‘Operator Telpon’ hehehe….yang bikin aku kaget…ternyata aku diberi ‘hadiah’ pulsa 100 real….oleh Adindaku yang baik hati dan tidak sombong, akhirnya aku tau juga siapa ‘donatur pulsa gratisku’…Alhamdulillah! Syukron….de’ Tati, semoga rizkimu makin diluaskan oleh-NYA, amien….

Mekkah
Perjalanan dari Jeddah ke Mekkah dengan Bus, relative lancar hanya makan waktu kurang lebih 2,5 jam perjalanan. Supir bus yang membawa bus yang kami tumpangi, berkewarga negaraan Mesir, biasalah kalo musim haji banyak pekerja-pekerja musiman yang masuk ke Saudi Arabia, buat mencari penghasilan sampingan. Pak Supir ini agak SKSD, dia memperkenalkan diri bernama Muhammad El Azab, profesi sebenarnya insinyur mesin, tapi dia mau aja jadi sopir selama musim haji ini, kata dia kalo aku sempat mampir ke Mesir, disuruh menghubungi dia biar dia ajak puter-puter Cairo, hehehe…amien, okay Pak Muhammad, asal gratisan biaya guide plus transportnya.
Bus yang kami tumpangi memasuki kota Mekkah pada sore hari sekitar pukul 16.30 sore, berhenti di satu tempat, lalu naik seorang Mahasiswa yang kupikir ini juga bagian dari pekerja musiman selama musim haji, maklum hasilnya lumayan buat tambahan uang saku. Mahasiswa ini kasih arahan bus kami harus kemana, berputar-putar mencari Maktab/Penginapan dimana kami akan tinggal sementara sebelum prosesi haji dimulai. Ternyata maktab kami…jauuuh euy dari Masjidil Harom, ada kali kurang lebih 10 Kilo! Di daerah Zahir ujung, Sarasitin, dekat Naqaba. Kalo naik taxi bisa 20 real ke Harom, ini kalo sama guide, coba kalo naik taxi tanpa guide bisa digetok sampai 40 real dari harom ke maktab, makanya tau soalnya pernah ngalamin langsung.
Tiba di Maktab, yang menurutku seperti penginapan flat, terdiri dari bangunan berlantai 4, ada 2 bangunan yang dipakai sebagai maktab, aku yang hanya sendiri, nggak faham harus gabung sama rombongan mana, sedang dari tour agentku nggak ada konfirmasi aku harus gabung ke grup mana, lha…aku kan berangkat 1 hari lebih awal dari grupku. Semua jama’ah yang datang bersamaku rata-rata sudah masuk ke kamar semua, tinggal aku yang gak tau harus masuk ke kamar yang mana, saat itu rasanya sediiih banget….sampai nangis, sudah lelah fisik dan mental…eh sampai malam hari sekitar pk. 20.00 malam aku masih juga keleleran di luar. Bener-bener diuji kesabaranku…aku sampai nelpon sohibku, Ephil…dengan kalem malah dinasehati,”Dhe…sabar aja, InsyaAllah aka nada kemudahan di prosesi hajimu nanti, ikhlas aja diterima soal kamu blum dapat kamar ini.” Aku sempat terhibur, tapi tetep aja sedih masih nggak tau solusi mau tidur dimana, ditanya ke salah satu koordinatornya malah balik dia Tanya “Ibu sudah dapat room list dari tour agent ibu?”, ini dia…aku bertanya malah balik ditanya, seandainya aku tahu dan sudah pegang room list ku, tentu aku sudah bobo manis dikamarku!
Aku akhirnya sms ke agent tourku yang di Jakarta, aku ancam kalau sampai gak dapat kamar malam itu, aku mau keluar cari penginapan sendiri. Tour agentku memohon agar aku jangan nekad gitu, lha…gimana gak kesel…aku sendirian gak jelas pula nasibnya. Aku lalu telpon ke Ayuk Thia, memohon kalau seandainya aku nggak ada tempat menginap, aku mau numpang tidur barang semalam di rumahnya. Dikira ayuk Thia, aku bercanda memohon agar bisa menginap dirumahnya, eh..dia malah ngetawain aku! Duh…..lagi sedih malah diajak ketawa, huhu…hehe…
Sambil ngancam mau cari taxi untuk keluar dari maktab, aku terpaksa jadi nangis Bombay deh…asli ini gak dibuat-buat, rasa sedih itu keluar dengan sendirinya. Ujian haji terus berjalan…
Akhirnya pihak konsorsium memberikan aku kamar di gedung yang jaraknya sekitar 50 M dari gedung yang semula aku berada. Sambil sesegukan aku jalan sambil bawa koper kecil hitamku, si Mahasiswa yang bertugas jadi guide di bus ku, membantu membawa koper kecilku, dia tampak bersimpati dengan kesedihanku yang sudah sampai malam masih belum jelas room list nya.
“Bu..ini nomer HP saya, kalau ada perlu apa-apa, bisa hubungi saya” katanya bersahabat sambil menyebut nomer ponsel dan namanya, aku yang masih sedih mencatat nomer hp nya dalam phone book hpku. Siapa tau berguna, jika aku perlu pertolongan darurat.
Satu pelajaran yang sangat berharga….kalau mau pergi haji, pastikan Tour Agent yang kita pilih memiliki ijin Penyelenggara Ibadah Umroh dan Haji, saat ini kebanyakan agent tour yang kecil-kecil bergabung dalam satu konsorsium yang besar untuk mengkoordinir penyelenggaraan Haji Plus, yang repotnya kalau koordinasinya kurang solid dan well organize, bisa mengurangi kenyamanan beribadah, aku juga faham bahwa tidak mudah mengurus jama’ah dari berbagai agent tour dalam satu wadah, aku hanya berusaha mengerti ini semua sudah dalam skenario ‘Ujian Haji’.
Setelah kamar yang pasti sudah kudapatkan, aku tertidur kelelahan, aku sekamar ber 5 dengan ibu-ibu dari tour agent yang berbeda, yang penting sama-sama perempuan toh….mereka juga ramah dan baik dengan ku, saat pukul 23.00 malam mereka membangunkan aku untuk menjalankan prosesi umroh dengan tawaf dan sa’i di Masjidil Harom, tetapi aku menolak karena terlalu letih…kuatir ntar pingsan, mending besok hari aja, dimana tenagaku sudah pulih kembali. Akhirnya esok hari aku ber-umroh dengan didampingi oleh Thamrin, Mutawwif yang disiapkan oleh pihak travel, si Mahasiswa yang baik hati menolongku.

Morning @Harom

Sa’i @Safa Marwa

To be Continued…..sudah waktu sholat Dzuhur, mau ke Nabawi dulu yaaa……

Madinah Al Munawaroh, Dec 9 ‘2009, 11.45.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: