Oleh: adhe | Februari 4, 2008

ESQ 165

Nggak terasa sudah 2 tahun yang lalu, aku mengikuti trainee seminar ESQ 165, Alhamdulillah aku selalu dilibatkan oleh Korwil untuk ikut kegiatan dari FKA (Forum Komunikasi Alumni), banyak manfaat yg bisa didapat, minimal kita bisa sedikit berbagi kasih dg sesama saudara seiman.

Jum’at 1 Feb 08 kemarin, ada pertemuan untuk evaluasi dari kegiatan FKA, seperti biasa setiap pertemuan selalu ada hikmah yang bisa dipetik. Hanya untuk satu hal yang mungkin sulit aku lakukan, menangis…, rasanya sulit aku menangis didepan orang banyak, sedang rekan2 yg lain bisa menangis tersedu-sedu, bukannya aku nggak peka dg renungan & tausiyah yg diberikan, mungkin aku agak ‘introvert’ untuk menunjukkan perasaan ‘haru’ku. Menangis merupakan sesuatu yg agak pribadi, jadi kalo mau nangis mungkin lihat kondisinya dulu, he..he..

Dari pertemuan itu, aku dapat informasi penting dari Pak Ary G, saat beliau ke State, tgl 13 Jan 08 yg lalu, bahwa begitu mudahnya orang mau bunuh diri di ‘Golden Gate’, bahkan disediakan telpon di pojokan jembatan, agar orang yg mau ‘suicide’ bisa menghubungi kerabatnya sebelum dia terjun bebas ke dasar jembatan, ada semacam himbauan yg ditempel di pagar jembatan “There is hope make the call”, jadi siapa tau tuh orang bisa berubah pikiran dan mengurungkan tindakan nekadnya setelah dia menelpon kerabatnya, tapi bisa juga dia “say good bye”, duh….ternyata implikasi dari ‘kemajuan & kemapanan’ hidup di state tidak menjamin orang kuat menghadapi tekanan hidup. Kita bisa melihat ada orang yg habis bunuh diri, jika kita melihat ada kotak or koper yg ditinggalkan pemiliknya di samping pagar jembatan. Sekedar informasi, sejak jembatan itu dibangun sampai th 1998 sudah 5000 orang yg mati bunuh diri, akhirnya pemerintah AS menutup case itu sampai kini, bisa dibayangkan sudah tambah berapa korban yg tidak terdata sejak 1998 sampai kini.

Intinya, kehidupan itu harus ada pegangan ‘spiritual’, kehidupan dunia yg penuh tekanan jika tidak dihadapi dg ‘keikhlasan untuk mengembalikan semua persoalan hidup kepada Yang Maha Kuasa’, kita hanya hamba yg diberi keterbatasan, dengan menyadari fitrah itu kita sadar bahwa kita ini nggak ada apa2, kita lahir dalam keadaan telanjang dan saat dikubur hanya memakai kain kafan, nggak ada apa2 yg dibawa kecuali ‘amal jariyah, do’a anak yg sholeh dan ilmu yang bermanfaat’.

Memang ada baiknya kita hadir dipertemuan-pertemuan yang dapat me recharge jiwa & hati kita agar selalu istiqomah dalam iman.

Tabik, 26 Muharram 1429/ Feb 4th’08, pk. 09.35 Wib 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: