Oleh: adhe | Agustus 9, 2010

Jernihnya Hati si Abang Becak

Menjelang Ramadhan ini, suasana hati dan lingkungan seperti ikut meneduh mencari berkah dari bulan yang suci diantara bulan-bulan yang lainnya. Nuansa ibadah lebih terasa kuat di bulan ini, mungkin inilah berkah bulan Ramadhan.

Ada beberapa ‘pesan’ tersembunyi yang aku terima secara tidak sengaja, yang mengingatkan aku pada satu hal, “sudah siapkah dirimu jika sewaktu-waktu harus menghadap-NYA ?”.

Jujur kalau mau ku jawab “aku belum siap dengan ‘bekal iman’ ku selama ini”, aku kembalikan lagi semua niat-niat baik semata-mata hanya karena-NYA, jika ternyata aku masih penuh dengan dosa, semoga bulan yang suci ini kembali membersihkan diriku dari niat-niat jahat dan dosa yang berkepanjangan, amien…

Beberapa hari yang lalu secara beruntun aku diingatkan kembali dengan ‘kewajiban’ yang harus aku persiapkan untuk menghadap-NYA kelak. Dari thread inbox yang dikirim oleh mba Reef, tentang kisah ‘Coma nya seorang mantan Pramugari’ yang didalam masa coma-nya dia mendapat ‘azab neraka’ yang digambarkan sama persis dengan yang tertulis dalam kitab suci Al-Qur’an, bahwa janganlah kita menafikan apa yang sudah diperingatkan dalam Kitab-NYA, bahwa penyesalan akan datang belakangan sudah tidak akan ada lagi gunanya.

Lalu aku juga membaca satu kisah nyata dari artikel yang dimuat dalam satu website, yang mengkisahkan bahwa siksa kubur itu ‘nyata adanya’ ketika seorang anak harus menggali kembali kuburan ayahnya, hanya gara-gara dia teringat bahwa passport miliknya ikut terkubur bersama mayat ayahnya, sehingga dia harus menggali kembali makam/kuburan ayahnya, pada saat dia membongkar kuburan itu terlihat bahwa kain kafan yang membungkus jazad ayahnya sudah tercerai berai dengan cipratan darah segar yang menempel di muka ayahnya. Bukankah ini pertanda bahwa siksa kubur itu ada? sebagai hamba-NYA yang berpikir, kita harus percaya bahwa peringatan selalu diberikan-NYA pada hamba yang selalu mau berpikir dan meyakini apa yang diperintahkan-NYA dan menjauhi apa yang dilarang-NYA.

Ada kisah lain yang tidak sengaja dituturkan oleh salah seorang relasiku, sebut saja namanya Pak Zul, “Bu, saya punya kenalan seorang abang becak namanya Pak Sholeh, yang ahlaqnya sangat mulia”, “Dia tidak punya apa-apa, hanya memiliki satu becak tua, yang menopang hidupnya sehari-hari”.

“Lantas apa istimewanya dari si abang becak itu?” tanyaku agak penasaran, “Istimewanya, setiap hari Jum’at Pak Sholeh ini selalu memberi tumpangan gratis buat para penumpangnya, dan setiap membawa penumpangnya, dia akan selalu memutarkan arah becaknya ke areal TPU,” jawab Pak Zul, sambil tersenyum.

“Maksud Pak Sholeh itu apa? tidak mau dibayar dan selalu memutar becaknya ke arah TPU?” makin penasaran aku dibuatnya. Pak Zul menjawab pertanyaanku dengan cara berkisah “Suatu hari ada seorang bapak, yang terkenal sangat kaya, dia secara kebetulan menaiki becak Pak Sholeh, seperti biasa beliau selalu memutarkan arah becaknya ke TPU, sambil menggenjot becaknya Pak Sholeh bertanya kepada si bapak yang jadi penumpangnya, “Pak, apakah bapak sudah siap dengan bekal iman? karena di hadapan kita ini adalah ‘rumah masa depan’ kita,”.

“Jadi bisa dibilang Pak Sholeh ini menarik becak sambil berda’wah?” tanyaku lagi sudah mulai faham maksud alur kisahnya, “Iya..” jawab Pak Zul lalu meneruskan kembali kisahnya, “Saat si bapak penumpang becak sudah sampai ke tempat tujuannya, dia mau membayar ongkos becaknya kepada Pak Sholeh, tetapi ditampik dengan halus oleh beliau, dengan ucapan “Terimakasih pak, ini hari Jum’at, saya tidak mau menerima ongkos becak setiap hari Jum’at karena saya sudah meniatkan tenaga saya sebagai sedekah yang saya bisa berikan pada orang lain karena Lillahi Ta’ala, saya orang miskin tidak punya harta benda tapi saya punya tenaga yang bisa saya sedekahkan semata-mata mengharap ridho-NYA” jawab Pak Sholeh sambil tersenyum lembut.”

“Subhanallah….” aku begitu terharu mendengarnya, “Lalu bagaimana reaksi si bapak penumpang itu?” tanyaku tak sabar, Pak Zul melanjutkan “Begitu mendengar alasan penolakan Pak Sholeh, si bapak kaya itu tiba-tiba menangis sambil berkata “Allah Maha Besar, aku yang sudah kaya ini ternyata masih menerima sedekah dari seorang abang becak yang tidak memiliki kekayaan apa-apa, sedang saya yang seharusnya lebih banyak bersedekah ternyata masih diingatkan oleh seorang abang becak untuk belajar bersedekah dan mempersiapkan bekal iman untuk kembali kepada-NYA,” lalu si bapak kaya itu melanjutkan ucapannya “Pak, karena bapak telah mengingatkan saya agar lebih dekat kepada-NYA, maka saya akan memberangkatkan bapak ke Tanah Suci dengan seluruh uang Zakat yang selama ini saya tidak keluarkan.”

“Allahu Akbar…” aku langsung mengucap takbir, begitu besarnya rizki dari Allah buat seorang abang becak yang hanya bersedekah dengan tenaganya dan berda’wah dengan lisannya.

“Pak Sholeh akhirnya berangkat haji dengan uang zakat dari si bapak kaya itu dan sampai sekarang dia tetap jadi tukang becak, yang setiap hari Jum’at selalu bersedekah dengan tenaganya dan selalu mengingatkan setiap penumpangnya dengan hari kematian,” tutup Pak Zul mengakhiri kisahnya dengan senyum, semoga kita selalu dalam ‘nikmat iman dan hidayah dari-NYA’ amien…

Bandar Lampung, 06082010.

Oleh: adhe | Mei 14, 2010

My Spiritual Journey (MSJ) 1

Dearest all my friends….baru sempat browsing net lagi nih via lappie, jadi ada kesempatan untuk mulai sharing kisah hajiku, secara bertahap…karena kesempatan dalam kesempitan waktuku yang tidak banyak, jadi kalau kisahnya harus dibuat bersambung harap maklum ya…saat aku posting part 1 ini, aku sedang menanti detik-detik kepulanganku dari Madinah menuju Mekkah kembali, kisah-kisah selama di Madinah Al Munawaroh akan aku share kemudian, yang kusampaikan dibawah ini baru kisah awal saat aku memulai proses perjalanan hajiku.

Keberangkatan dan Kedatangan
Pesawat yang aku tumpangi menuju ke tanah suci adalah Yaman Air, bertolak dari Bandara Sukarno Hatta pada tgl. 19 Nov 2009 Pk. 16.00 sore hari, penerbangan dari Jakarta – Sana’a terbilang lancar, nggak nemuin turbulence yang kuat, pelayanan dari awak kabinnya yah…standart lah, hanya ada satu Pramugarinya yang rada jutek, lha…masa’ temen yang duduk disebelahku mau minta Pepsi eh malah dikasih 7 Up, dia mau minta ganti Pepsi, di cuekin sambil rada ngedumel….yiahhh….gini ini nih…yang bikin males request.

Makanan yang disediakan di pesawat.

Kami tiba transit di Sana’a pada pk. 21.00, kurang lebih 5 jam transit, suasana di Sana’a sepi…ya jelas sampe malam hari, bandara internasionalnya nggak sebesar Suta. Aku yang ngantuk berat sempat tiduran dikursi ruang tunggu Bandara. Aku berangkat sendirian tanpa ada rombongan, ada juga rombongan dari group konsorsium tapi aku gak kenal sama orang-orangnya. Mama dan Papaku terpisah jadwal keberangkatannya, gak tau koq bisa terpisah keberangkatan kami, katanya sih alas an visa, sudahlah aku nggak mau berdebat panjang lebar, walau sebenarnya aku heran aja koq bisa terpisah? Selama transit kami diberi konsumsi cukup…wareg pokoknya! Selip dikit Warteg..hehehe.
Pk. 01.30 waktu Sana’a, pesawat Yaman Air membawa kami terbang ke Jeddah, nah….mulailah perjuangan haji dimulai dari Bandara. Harus sabar………….gimana nggak sabar, harus tarik-tarik koper berdesak-desakkan antara tua muda, laki-laki dan perempuan, antar bangsa, gak peduli semua berlomba-lomba ingin segera keluar dari Bandara Jeddah, tujuannya Cuma satu ingin segera sampai ke Mekkah.

Suasana di Bandara Sana’a, Yaman.

Jeddah
Tiba di Jeddah pukul 04.00 subuh waktu setempat, Jum’at 20 Nov 2009, tapi urusan imigrasi dan transportasi baru beres pukul 12.30, hebat yaaa…..teler..teler dah! Untung masih nemu nasi, krupuk sama kering tempe…wah nikmat rasanya bagi aku yang kelaparan, hehehe.
Aku yang sorangan wae, yah..hanya mikir badan seorang aja, walau perlu perjuangan juga untuk antri di Post Imigrasi dan melewati pemeriksaan aparat haji setempat, sebenarnya aku lumayan tenang karena ini haji yang kedua, minimal aku sudah pernah merasakan proses imigrasi yang lama dan melelahkan ini. Bandara khusus haji di Jeddah ini sebenarnya besar, tapi herannya tetep aja terkesan kurang effisien, nggak tau ya…banyak petugas haji tapi mereka nggak terlihat sigap, malah agak lamberta. Yasud…namanya juga di negeri orang, harap maklum ikut aturan yang punya Negara. Denger-denger semua bisa diatur asal ada ‘fulus’nya, yeee….semua juga tahu! UUD…ujung-ujungnya duit.
Tapi tetap aja ada bedanya, kalo dulu aku pergi bareng hubby yang siap memback-up urusan-urusan koper, kini aku pergi sendiri, otomatis urus sendiri lah yauuu…
Aku sempat ‘merasa kehilangan’ koper hitam kecilku, aku muter-muter nyari taunya itu koper sebenarnya ada dihadapan aku, hahahaha….kacauuu akibat kurang tidur, jadi mataku siwer-siwer. Sedang koper besarku tidak kubawa bersamaku, tapi dititipkan pada tour agentku, yang belakangan malah gak jadi berangkat. Alhasil….kemudian hari, aku pergi haji dengan nebeng baju Mamaku, huhuhuhuhu…..Mama I Luv U Full…..ampe beleber, gara-gara koper yang gak kebawa aku asli gak ‘Begaya FM’…padahal isi koperku itu baju-baju baru semua khusus untuk haji ini, mungkin ALLAH lebih menginginkan aku ‘tetap bersahaja’ nggak usah show off, buktinya aku harus nyadar ternyata aku emang gak boleh lebih gaya dari Mamaku, hehehe…huhuhu…!

Telepon
Selama masa menanti yang panjaaaang di Bandara Jedah, aku sibuk nelpon ke tanah air, tentu Hubby lah yang ditelpon, lapor Boss…semua under controle! Lalu Ayuk Thia Zein yang mukim di Mekkah, temen FB dan YM, awalnya sih kenal via Kompas Community (KoKi), lalu nelpon Cahaya Dammam (Tati) ini juga temen FS dan FB, pokoke gunakanlah jejaring social net workingmu saat di luar negeri, trus…aku juga nelpon Kak Ed (Bp.Edward Nizar) staf Konjen RI di Jeddah yang masih keluargaku. Intinya aku mau kasih tau bahwa ‘I am Here in Jeddah’..hehehe.
Aku sudah dibekali kartu sim card Al Jawal oleh sohibku Yuni, dari tanah air dengan nomor cantik pula, staf kantorku, keluarga dan sohib-sohib dekat sudah aku ingatkan nomor ini, yang kemudian hari malah aku ganti nomor dengan sim card Zein, hehehe…alasannya kartu Zein lebih wuss..wuss…browsing net nya via Hp Nokiaku, sorry Bros and Sis kalo susah menghubungiku selain ganti kartu juga jaringan crowded selama musim haji, harap maklum hehehe….
Aku yang asyik ngobrol ketawa ketiwi ditelpon lama-lama sadar, lha ini pulsa Al Jawal koq tinggal sekarat…alias S.O.S, waduuh harus beli lagi nih, aku memicingkan mata mencari counter pulsa, nah…itu dia STC, counter Al Jawal aku dekati, langsung beli pulsa 50 Real saja. Selanjutnya cukup sms untuk mensiasati pulsa biar gak sekarat lagi, hehehe…rupanya kelakuan aku yang asyik ngobrol sendirian sampai gak peduli ama yang lain, membuat beberapa jama’ah dari daerah Sulawesi Selatan, yang kebetulan berangkat dalam satu konsorsium yang sama, mendekatiku, awalnya hanya satu, dua dan tiga orang minta temenin beli pulsa telpon, sekalian ngebantu komunikasi dengan si penjual pulsa, maklum mereka kan hanya bicara pake bahasa ibu, kalo Cuma speak English buat beli pulsa, aku mah fine-fine aja, hehehe…selesai urusan beli pulsa, ternyata masih ada request lain lagi…”Mbak..tolong telponin ke anak saya, keluarga saya, tetangga saya” wookeh…selama aku bisa bantu, why not! Aku bantu mereka pelan-pelan sambil memberi informasi, kalau mau telpon ke tanah air, selalu gunakan kode ‘+62…’ diikuti dengan nomer telpon yang dituju, tetapi dengan menghilangkan angka ‘0’ dimuka, misal ‘+62812….’.
Sukurlah mereka segera faham, hanya yang bikin aku geli, kebanyakan ibu-ibu dan bapak-bapak yang sudah sepuh dibawain ‘anak-anak mereka’ HP yang sebelumnya mereka sendiri nggak common memakai HP itu sendiri, alhasil aku diminta membuka menu telpon dan mencarikan nama-nama anak mereka untuk ditelponin, jadi aku kasih arahan singkat gimana menggunakan HP tersebut secara ringkas. Kalau HP yang digunakan sekelas Nokia mah friendly User banget, nah yang repot…jika yang digunakan HP Pochin (Ponsel China)…..ampuuun aku dibuat bingung cara pakainya, kalo model mah gak salah-salah jiplak Nokia bahkan model Blackberry, tapi ya…gitu deh parah penggunaannya, sorry yaaah…..bukannya aku gak suka HP Pochin, hanya nggak common aja. Ujung-ujungnya yang minta bantuanku makin bertambah…ambil berkahnya aja, aku malah dibilang ‘Operator Telpon’ hehehe….yang bikin aku kaget…ternyata aku diberi ‘hadiah’ pulsa 100 real….oleh Adindaku yang baik hati dan tidak sombong, akhirnya aku tau juga siapa ‘donatur pulsa gratisku’…Alhamdulillah! Syukron….de’ Tati, semoga rizkimu makin diluaskan oleh-NYA, amien….

Mekkah
Perjalanan dari Jeddah ke Mekkah dengan Bus, relative lancar hanya makan waktu kurang lebih 2,5 jam perjalanan. Supir bus yang membawa bus yang kami tumpangi, berkewarga negaraan Mesir, biasalah kalo musim haji banyak pekerja-pekerja musiman yang masuk ke Saudi Arabia, buat mencari penghasilan sampingan. Pak Supir ini agak SKSD, dia memperkenalkan diri bernama Muhammad El Azab, profesi sebenarnya insinyur mesin, tapi dia mau aja jadi sopir selama musim haji ini, kata dia kalo aku sempat mampir ke Mesir, disuruh menghubungi dia biar dia ajak puter-puter Cairo, hehehe…amien, okay Pak Muhammad, asal gratisan biaya guide plus transportnya.
Bus yang kami tumpangi memasuki kota Mekkah pada sore hari sekitar pukul 16.30 sore, berhenti di satu tempat, lalu naik seorang Mahasiswa yang kupikir ini juga bagian dari pekerja musiman selama musim haji, maklum hasilnya lumayan buat tambahan uang saku. Mahasiswa ini kasih arahan bus kami harus kemana, berputar-putar mencari Maktab/Penginapan dimana kami akan tinggal sementara sebelum prosesi haji dimulai. Ternyata maktab kami…jauuuh euy dari Masjidil Harom, ada kali kurang lebih 10 Kilo! Di daerah Zahir ujung, Sarasitin, dekat Naqaba. Kalo naik taxi bisa 20 real ke Harom, ini kalo sama guide, coba kalo naik taxi tanpa guide bisa digetok sampai 40 real dari harom ke maktab, makanya tau soalnya pernah ngalamin langsung.
Tiba di Maktab, yang menurutku seperti penginapan flat, terdiri dari bangunan berlantai 4, ada 2 bangunan yang dipakai sebagai maktab, aku yang hanya sendiri, nggak faham harus gabung sama rombongan mana, sedang dari tour agentku nggak ada konfirmasi aku harus gabung ke grup mana, lha…aku kan berangkat 1 hari lebih awal dari grupku. Semua jama’ah yang datang bersamaku rata-rata sudah masuk ke kamar semua, tinggal aku yang gak tau harus masuk ke kamar yang mana, saat itu rasanya sediiih banget….sampai nangis, sudah lelah fisik dan mental…eh sampai malam hari sekitar pk. 20.00 malam aku masih juga keleleran di luar. Bener-bener diuji kesabaranku…aku sampai nelpon sohibku, Ephil…dengan kalem malah dinasehati,”Dhe…sabar aja, InsyaAllah aka nada kemudahan di prosesi hajimu nanti, ikhlas aja diterima soal kamu blum dapat kamar ini.” Aku sempat terhibur, tapi tetep aja sedih masih nggak tau solusi mau tidur dimana, ditanya ke salah satu koordinatornya malah balik dia Tanya “Ibu sudah dapat room list dari tour agent ibu?”, ini dia…aku bertanya malah balik ditanya, seandainya aku tahu dan sudah pegang room list ku, tentu aku sudah bobo manis dikamarku!
Aku akhirnya sms ke agent tourku yang di Jakarta, aku ancam kalau sampai gak dapat kamar malam itu, aku mau keluar cari penginapan sendiri. Tour agentku memohon agar aku jangan nekad gitu, lha…gimana gak kesel…aku sendirian gak jelas pula nasibnya. Aku lalu telpon ke Ayuk Thia, memohon kalau seandainya aku nggak ada tempat menginap, aku mau numpang tidur barang semalam di rumahnya. Dikira ayuk Thia, aku bercanda memohon agar bisa menginap dirumahnya, eh..dia malah ngetawain aku! Duh…..lagi sedih malah diajak ketawa, huhu…hehe…
Sambil ngancam mau cari taxi untuk keluar dari maktab, aku terpaksa jadi nangis Bombay deh…asli ini gak dibuat-buat, rasa sedih itu keluar dengan sendirinya. Ujian haji terus berjalan…
Akhirnya pihak konsorsium memberikan aku kamar di gedung yang jaraknya sekitar 50 M dari gedung yang semula aku berada. Sambil sesegukan aku jalan sambil bawa koper kecil hitamku, si Mahasiswa yang bertugas jadi guide di bus ku, membantu membawa koper kecilku, dia tampak bersimpati dengan kesedihanku yang sudah sampai malam masih belum jelas room list nya.
“Bu..ini nomer HP saya, kalau ada perlu apa-apa, bisa hubungi saya” katanya bersahabat sambil menyebut nomer ponsel dan namanya, aku yang masih sedih mencatat nomer hp nya dalam phone book hpku. Siapa tau berguna, jika aku perlu pertolongan darurat.
Satu pelajaran yang sangat berharga….kalau mau pergi haji, pastikan Tour Agent yang kita pilih memiliki ijin Penyelenggara Ibadah Umroh dan Haji, saat ini kebanyakan agent tour yang kecil-kecil bergabung dalam satu konsorsium yang besar untuk mengkoordinir penyelenggaraan Haji Plus, yang repotnya kalau koordinasinya kurang solid dan well organize, bisa mengurangi kenyamanan beribadah, aku juga faham bahwa tidak mudah mengurus jama’ah dari berbagai agent tour dalam satu wadah, aku hanya berusaha mengerti ini semua sudah dalam skenario ‘Ujian Haji’.
Setelah kamar yang pasti sudah kudapatkan, aku tertidur kelelahan, aku sekamar ber 5 dengan ibu-ibu dari tour agent yang berbeda, yang penting sama-sama perempuan toh….mereka juga ramah dan baik dengan ku, saat pukul 23.00 malam mereka membangunkan aku untuk menjalankan prosesi umroh dengan tawaf dan sa’i di Masjidil Harom, tetapi aku menolak karena terlalu letih…kuatir ntar pingsan, mending besok hari aja, dimana tenagaku sudah pulih kembali. Akhirnya esok hari aku ber-umroh dengan didampingi oleh Thamrin, Mutawwif yang disiapkan oleh pihak travel, si Mahasiswa yang baik hati menolongku.

Morning @Harom

Sa’i @Safa Marwa

To be Continued…..sudah waktu sholat Dzuhur, mau ke Nabawi dulu yaaa……

Madinah Al Munawaroh, Dec 9 ‘2009, 11.45.

Oleh: adhe | Mei 14, 2010

Cinderella in Paris (Resensi)

Kesan pertama memegang buku ini, cukup menarik mata, tampilan covernya yang romantis melukiskan gerbang Arc du Triomphe di waktu malam dengan kilatan lampu jalan dan mobil menebarkan warna ke emasan dan langit malam yang bewarna jingga, sungguh sangat romantis!

Saat aku buka lembaran kertasnya, ternyata fine quality, ini yang aku suka, kertas yang awet, dengan harga Rp. 50.000,- sangat sepadan. Menbaca endorsement novel ini langsung membuatku tersenyum…soalnya ada 2 nama yang sudah aku kenal didalamnya, hehe…. 

Membaca novel ini dari Bab 1 sampai Bab 17 benar-benar mengasyikkan, kita seperti ikut terlibat didalam perjalanan hidup tokoh Saras Ratiban. Satu hal yang dapat kunilai dalam novel ini, kejujuran dari penulis dalam mengisahkan alur kehidupan dari seorang Saras Ratiban. Kejujuran yang mendatangkan simpathi, tetapi tidak untuk dikasihani. Tokoh Saras Ratiban mencerminkan karakter yang kuat dari seorang wanita karir yang masih lajang, yang berusaha kuat untuk meraih cinta sejatinya.

Jika dibanding dengan pendidikan dan karirnya, kisah cinta Saras tidak berbanding sama lurusnya. Kisah cinta yang berliku dan melalui waktu dan perjuangan perasaan yang campur aduk rasa nano nano, membuat pembaca terbawa hanyut dalam perasaan mengharu biru. Bagaimana rasanya menjumpai ‘Frenemy’ (Friend ‘n Enemy, I like this idiom, really!) yang begitu dekat dengannya, lalu laki-laki yang selalu memberi ‘harapan’ tetapi akhirnya menghilang atau mengecewakan, ditemui Saras sejak masa kuliah di Bandung sampai kehidupan berkarirnya. Periode masa kuliah antara tahun 1994 – 1998, dianggap Saras sebagai periode yang indah, dimana kehidupan sebagai mahasiswa tidaklah serumit kehidupan wanita dewasa, yang mulai dituntut untuk memikirkan jodoh pendampingnya.

Kepiawaian penulis dalam mendeskripsikan sosok Saras yang ceria, optimis dan ambisius, melengkapi kekuatan tokoh Saras dalam menjalani hidup yang penuh dengan cobaan, dari masalah pekerjaan, frenemy, jodoh yang tak kunjung tiba sampai obsesi untuk meraih beasiswa yang belum terjangkau. Semuanya berujung ke niat ingin bunuh diri, hehehe….pada Bab ke 14 yang bertitle ‘Hantu Ci Vivi’, aku dibuat tertawa terbahak-bahak, bener-bener membayangkan Saras yang konyol dan lucu. Pembaca dibuat tertawa, jengkel saat membaca bagian tentang frenemy dan saat para lelaki yang sukanya memberi harapan dan tebar pesona saja dari Perancis sampai Melbourne. Lalu diakhiri dengan rasa haru karena bahagia dimana Saras akhirnya menemukan ‘Jantung Hatinya’ yang telah disiapkan oleh Yang Maha Kuasa pada waktu dan tempat yang indah di ‘Parc de Sceaux’ Paris, tres joli…ma cherie!

Perjalanan ala backpackers di benua Eropa dan Australia, memberikan setting yang indah tentang tempat dan suasana yang ditemui Saras, sungguh membuat kita terbujuk untuk pergi ke sana juga. Kisah ini dilengkapi dengan tokoh-tokoh pendamping yang cukup banyak yang memberi nuansa tersendiri dari tiap Bab yang dibaca. Akhir kata kisah ini berakhir ‘Happy Ending’…..seperti kisah dongeng Cinderella yang akhirnya berjumpa kembali dengan Pangeran Pujaan hatinya, setelah tepisah oleh ruang dan waktu selama 5 tahun.

Kalau mau lebih jelas….beli bukunya yaaa….jangan minjem!

Buat penulis…ditunggu novel-novel manis lainnya….semanis senyum HRD Saras Ratiban! hehehe…….

CIP

 

*Gambar copas dari Group Cinderella in Paris (FB).

Indahnya Danau Ranau @Kab. OKU Selatan, Sumatera Selatan

Indahnya Danau Ranau @Kab. OKU Selatan, Sumatera Selatan

Lega rasanya udah kembali berada di rumah, setelah 2 hari keluyuran di jalan, setelah suasana Pesta Rakyat berakhir damai…tanggal 9 April 2009 yang lalu. Yup…libur setelah kegiatan contreng mencontreng selesai, bener-bener bikin fresh…sebelumnya sempat dibuat jutek, di Tempat Pusing Semua, hehehe….gimana nggak Pusing? Ngelipat kertas suara yang segitu gede udah bagus kalau gak sobek. Hubby sempat bertanya padaku, “enaknya kita kemana ya? Libur pasca Pemilu”, langsung kujawab “Danau Ranau!!!”.

Lokasi wisata ini letaknya ada di dekat perbatasan Lampung Barat dan Sumatera Selatan, tepatnya di Kabupaten OKU (Ogan Komering Ulu) Selatan. Jarak tempuh dari kota Bandar Lampung ke Danau Ranau (DR) kurang lebih 277 KM. Kalau alon-alon asal kelakon bawa mobilnya, bisa dicapai dengan 6 jam perjalanan darat. Ini pun dengan kondisi jalan yang berlubang-lubang. Aku pikir kalau kondisi jalan mulus dan nggak banyak rusak, jarak tempuh bisa dipersingkat waktunya hanya 4 jam saja.

Satu hari sebelumnya, tanggal 8 April, pukul 12 siang, aku telpon Duata, temenku yang tinggal dan bertugas di Liwa, Lampung Barat. Dia yang tadinya berniat mau ke Bandar Lampung, terpaksa mengurungkan niatnya buat pergi, karena ada temen-temen baiknya mau melancong ke Lampung Barat, Aku dan Hubby, plus bocah-bocah, hehehehe…..memang sudah lama Ata (panggilan temenku ini) mengundang kami berlibur ke Liwa, nah…kini kami sudah siap ke Liwa, sebelum akhirnya menuju ke DR.
Ku mulai kisahku di hari Pencontrengan,

Kamis, 9 April 2009

Pagi hari, aku sudah mempersiapkan baju serta perlengkapan yang harus dibawa oleh kami sekeluarga, maklumlah kalau bawa anak-anak, harus siap bukan hanya baju-baju dan perlengkapan mandi, termasuk juga obat-obatan yang harus dibawa. Berhubung sudah biasa pergi keluar kota pakai mobil, aku minimal sudah terbiasa mempersiapkan segala sesuatu secara cepat. Biar waktu berangkat agak siang, pagi-pagi si Wawa dan Mbok Yem, dua assistenku yang dirumah, harus mencontreng ke TPS lebih pagi, setelah mereka pulang, baru aku dan hubby yang keluar rumah. Keadaan di TPS agak antri, aku tadinya menganggap urusan lipat melipat kertas suara hanya hal yang sepele. Ternyata….bukan hal yang mudah buat nenek-nenek dan kakek-kakek. Aku sampe antri 30 menit, setelah…mencontreng, malah di komentari oleh hansip TPS, “Bu milih yang no…., itu ya!”, “Koq tau?” tanyaku, “Iya kelihatan saat Ibu mencontreng”, oalah…..dasar!!!

Pukul 11.30 Wib, kami siap memulai perjalanan dengan mobil ke Liwa, Lampung Barat. Kami mengontak Ata terlebih dahulu, memastikan bahwa cuaca cerah disana. Biar lebih nyaman kalau tahu cuaca disana okey. Syukurlah..cuaca disana baik dan cerah. Selama di jalan, cuaca bener-bener “nano-nano”, sebentar cerah…sebentar hujan nggak tanggung-tanggung hujan lebat…bikin jiper aja, tapi dasar udah ‘kebelet’ ingin lihat gimana indahnya ‘DR’ yang selama ini hanya aku lihat lewat ‘Lukisan’ (see…my notes “Gw dan Lukisan”). Jalanan menuju ke lokasi wisata ‘DR’, jujur aja kalau aku bilang ‘cukup parah’ ibarat kalau ada ibu-ibu hamil 9 bulan, bisa-bisa melahirkan di jalan, hehehehe…..

Aku telpon temenku ‘Ata’, “Ta, gue udah sampai di Fajar Bulan nih…, udah dekat kan sama rumah elo?”, “Iya…tapi masih 1 jam lagi, Gue udah siapin makan siang, kalau elo udah sampe Kenali, telpon gue lagi!”, “What’s??? gile…elo bilang deket…Cuma beberapa kilo udah sampe rumah elo, hahaha…dasar!”, si Ata malah ketawa dengerin aku yang udah penasaran ini koq nggak sampai-sampai ke rumahnya. Kami start dari rumah pukul 11.30 Wib, jam di tanganku udah menunjuk pukul 14.30 Wib, berhubung Ata udah mau menjamu kami dengan makan siang di rumahnya, jadi kami putuskan nggak stop di resto buat makan, lumayan….dapat makan siang gratisan, hehehe…Cuma koq lama amat sampainya.

Rumah Tua 'ATA' @Kenali, Lampung Barat

Rumah Tua 'ATA' @Kenali, Lampung Barat

Kenali…, nah kami udah masuk ke daerah ini, jam sudah menunjukkan pukul 15.30 Wib, aku telpon Ata lagi, setelah di beri sedikit arahan, akhirnya kami tiba juga di ‘Rumah Tua’ nya Ata. Bagi kami, yang orang Sumatera Bagian Selatan, rumah keluarga milik Orang Tua, disebut dengan nama ‘Rumah Tua’ (orang Palembang menyebutnya ‘Rumah Bari’). Rumah tua Ata, asli dari kayu tembesu, kabarnya di bangun sejak th 1950-an, bau kayu nya khas…mengingatkan aku dengan Rumah Bari almarhum Nenek ku di Palembang. Ata dan keluarganya menyambut dengan ramah, kebetulan keluarganya sedang pada berkumpul dalam rangka Pemilu, hm….semua pada kumpul berkat libur Pemilu, hehehe…., Ata pikir kami akan sampai pukul 16.30 Wib, ternyata kami lebih cepat 1 jam dari perkiraannya, lha….gimana nggak naik mobil bareng Hubby kalo nggak ngebut…bukan naik mobil namanya…hajar bleh..biar kata ada lobang trabasss….makanya aku dah biasa kalau naik mobil dengan speed kenceng, supir travel aja kalah ngebut jika dibanding ma Hubby, hehehe..ini kata aku lho…kalau bocah-bocah malah seneng aja, mereka malah tidur nyenyak selama di jalan, tinggal aku yang bertugas sebagai Navigator, yang mengawasi kondisi jalan, dan kasih aba-aba harus ambil jalan yang kemana, kapan harus mengendorkan speed dan kapan harus menggeber kecepatan lagi, makanya aku gak bisa tidur nyenyak kalau lagi di jalan. Memasuki daerah Lampung Barat karena kontur tanah yang berbukit-bukit dengan suhu udara yang sejuk, membuat warga setempat banyak yang jadi petani lada dan kopi. Di kanan kiri jalan ada kebun lada dan kopi, warga setempat menjemur kopi di setiap halaman rumah.

Setelah 1 jam beristirahat sambil makan sore, Bro Ata…thanks a lot ya…sama penyambutan yang hangat dari mu dan keluarga. Ata mengantar kami ke kota Liwa, hanya berjarak 22 KM dari Kenali.

Stop dulu buat beli jagung rebus.

Stop dulu buat beli jagung rebus.

Sempat beli jagung rebus dulu di jalan, sampai di kota Liwa, sudah menjelang Maghrib, cuaca gerimis. Kami mencari penginapan buat bermalam, sebelumnya Ata konfirmasi ke kami bahwa cottage Wisma Pusri sudah fully booked di pakai peserta workshop, jadi kami terpaksa bermalam di Liwa, bukannya di DR, habis…mendadak sih rencananya, hehehe. Ata, menunjukkan satu penginapan, namanya ‘Sindalapai’, bangunannya terkesan bangunan tua, dia agak ragu-ragu menyarankan kami untuk nginep disini, “Ada apa Ta?” tanyaku penasaran, “Ini kayak bangunan tua ya? Apa peninggalan jaman Belanda?” tanyaku, “Iya” jawab Ata, trus aku diskusi sama Hubby, “Pak, sebaiknya gak usah nginep disini, kesannya ‘Angker’, hi………..” nggak lucu kan, kalau malem-malem ada yang ketok-ketok pintu kamar yang penampakannya kayak Sinyo atau Noni Belanda, halah kabuuuuurrrrrrrrrrrr…..Ata merekomendasikan penginapan yang lain, nama ‘Permata Hotel’ kelas Melati, lumayan deh…nggak serem seperti yang pertama tadi, hehehe….cuaca di Liwa semakin malam semakin dingin, persis di Puncak, kotanya juga sepi, pada tahun 1994 Liwa pernah dilanda Gempa Bumi berkekuatan hampir 7 skala Richter banyak bangunan yang roboh dan hancur, makanya banyak yang atap rumahnya pakai seng atau genteng multi roof jika sewaktu-waktu ada gempa nggak mudah rontok dibanding kalau pake genteng plentong. Ata memesan makan malam, kami makan di hotel aja, habis udah lelah dan ngantuk juga. Apalagi, besoknya kami akan ke DR dan langsung pulang.

Jalanan di kota Liwa, hotel Permata, tempat kami menginap.

Jalanan di kota Liwa, hotel Permata, tempat kami menginap.

Jum’at, 10 April 2009

Pagi hari, kami bangun dengan badan udah segar kembali, hasil quickcount…Demokrat memimpin. Siapapun yang menang, kita tetap support! Update Status temen-temen di Facebook semuanya rata-rata sama tentang Pemilu,contreng…………..hehehe.

Pukul 10.00 Wib, setelah Hubby ngelap dan cuci mobil ala kadarnya dan aku sudah ngurusin bocah-bocah mandi dan makan, Ata datang ke hotel siap untuk mengantar kami ke DR, Alhamdulillah cuaca bagus….bener-bener cerah, aku tak putus-putus bersyukur atas keindahan alam Indonesia ciptaan-NYA. Handycam dan Camera selalu siap ditangan, untuk mengabadikan apa saja yang bagus buat di record.

Perjalanan menuju ke DR, harus melalui hutan yang masih di kawasan TNBBS (Taman Nasional Bukit Barisan Selatan), wuih..kata Ata, masih ada Harimau Sumatera, Beruang dan Gajah di kawasan ini, duh…moga-moga nggak ketemu deh. Dan memang nggak ketemu, hehehe…mungkin mereka juga tau, kami mau liburan jadi gak mau saling mengganggu, hihihi….sebelum masuk ke Lokasi DR, kami harus melalui kampong ‘Buay Nyerupa’..konon ini kata si Ata, lho…ada hikayat leluhur, bahwa dulunya di kampong ini banyak ‘Orang-orang Pinter’ alias ‘Dukun’ yang bisa menyerupai apa saja, termasuk “Harimau jadi-jadian” hiiiii….serem amat, jadi inget tokoh “Madian” di cerita “Misteri dari Gunung Merapi” yang disebutkan bisa berubah rupa jadi Harimau!!! Trus…kata si Ata lagi, di kampong ini ada orang-orang yang ahli buat ‘Racun’, alias kirim ‘Santet’…nah…tambah serem lagi nih hikayat, yah…didengerin aja sih buat tambah-tambah pengetahuan kisah-kisah rakyat setempat, malah kata Ata, dia bisa ceritain hikayat asal usul terjadinya DR, berhubung pasti tambah panjang judul hikayatnya, ntar ajalah diceritainnya, hehehehe….bikin penasaran aja yah!!!

cottages 'Wisma PT.Pusri' @Danau Ranau

cottages 'Wisma PT.Pusri' @Danau Ranau

Tibalah..kami di lokasi DR,Subhanallah…..indahnya!!!!DR dilihat dari atas bukit, amboi…cantiknya, dengan hamparan sawah yang menguning bak permadani alam nan elok bersanding dengan birunya air danau. Cuaca disini sungguh fresh…kami melalui desa Kuta Batu dan desa Pilla sebelum sampai di DR. Objek wisata DR itu ibarat ‘Gadis Desa yang masih polos’ belum banyak berdandan, alam Indonesia itu asli cantik jelita hanya tidak maksimal pengelolaannya. Bukan tugas yang mudah buat memajukan pariwisata, selain Bali, mungkin pemerintah harus bekerja keras untuk membangun mental para penduduk di sekitar wilayah lokasi pariwisata agar turut memajukan daerahnya dengan potensi wisata yang ada.

Berdua Rama @Danau Ranau

Berdua Rama @Danau Ranau

Selanjutnya dukungan sarana dan infra struktur yang menunjang objek wisata harus di lakukan secara berkesinambungan, jangan hanya setengah hati, sudah dibangun, selanjutnya ditelantarkan tidak dirawat, akhirnya terbengkalai sia-sia, uang Negara terbuang percuma. Duh…koq aku jadi pengamat pariwisata aja lagaknya!!! Hehehe…

Kami putuskan untuk berperahu ke lokasi Air Panas di ujung tepi DR sebelah barat. (kira-kira aja nih), berperahu getek makan waktu 20 menit, sampailah kami ke pemandian Air Panas, yang sumbernya ada dari Mata Air yang keluar dari bawah bukit di tepi DR. Wuih…puanasss….telor aja bisa mateng nih kayaknya! Setelah puas main di air panas, kami pulang kembali ke dermaga penyebrangan, ongkos naik perahu Rp. 100.000,-/perahu.

Berendam di mata air panas.

Asyik merendam kaki di mata air panas Danau Ranau.

naik perahu getek, hanya 20 menit, ombaknya tenang…nyaman koq.

lokasi mata air panas yang di block dengan pagar, masih di tepi Danau Ranau, kalo berendam airnya hangat, justru kalau dipermukaan airnya panas.

gayanya si pengemudi perahu, pake kaki doang..sedang dia duduk di atap perahu. kenapa gak akrobat sekalian??? hehehe…

Kaki yang mengemudi

Inilah cara mengemudi perahu getek by sikil

Sudah pukul 13.00 Wib, saatnya untuk makan siang. Wisata kuliner ke resto setempat, RM ‘Pondok Bambu’, lumayan…buat orang yang lagi kelaparan!!! Hehehe…lagi-lagi Rp. 100.000,- buat makan ber 5. Cukup murah kan.
ada sayur asem, lalapan dan tumis rebung bambu, serta ikan mas bakar.

Petunjuk Arah

Petunjuk Arah ke Krui.

Pukul 14.00 Wib, kami berpisah dengan Ata di Liwa, karena kami akan menuju Krui, selanjutnya ke Bandar Lampung melalui Kota Agung, Tanggamus. Kami pulang melalui jalur yang berbeda. Jalur yang kami pilih relative baik jalannya, Cuma lebih sepi, sunyi dan mencekam, hiiii…..membayangkan ada “Wak Aung” dan “Macan Kumbang” lewat, hehehe.. soalnya kami melalui TNBBS (Taman Nasional Bukit Barisan Selatan) yang masih perawan. Belum lagi…ancaman tanah longsor yang bisa saja terjadi sewaktu-waktu apalagi cuaca hujan saat kami lalui jalan yang berliku-liku, aku julukin jalan “Kelok 1000” abis..banyak banget tikungannya…hehehe..bocah-bocah malah tertawa senang saat mobil berbelok ke kanan dan ke kiri, padahal aku komat kamit baca do’a.
Jarak tempuh Liwa – Krui sekitar 32 KM, memakan waktu 1 jam perjalanan, jalanan yg licin dan curam serta ditutupi kabut tipis, semakin membuat kesan sunyi dan sepi, tapi kami memutar CD ‘Laskar Pelangi’ biar menambah semangat perjalanan. Kami sampai di Krui, pukul 15.00 Wib, karena mau mampir di Pantai Tanjung Setia, yang jaraknya masih 1 jam perjalanan lagi, di Kec. Pesisir Selatan, kami tidak berhenti di Krui, selain itu cuaca juga hujan.

Pintu masuk ke TNBBS, belum sempat mampir, numpang lewat aja udah sukur..hehehe.

Taman Bukit Barisan

Pintu Masuk ke TNBBS

Sungai yang melintasi TNBBS, pemandangannya keren dan udaranya bersih.

Sungai di TNBBS

Sungai di TNBBS

Jalan rawan longsor.

Jalan rawan longsor antara Liwa - Krui

Kondisi jalan lintas TNBBS yang rawan longsor.

Bilboard Pantai Tanjung Setia.

Billboard Tanjung Setia Beach.

Tiba di pantai Tanjung Setia pada pukul 16.00 Wib, aku sempat kekie…kenapa susah cari jalan masuk menuju ke tepi pantai? Karena tepi pantai sudah di ‘Block’ oleh para pemilik losmen yang tampilannya niru gaya losmen di Bali wajar aja nggak jauh dari tempat ini ada kampung Bali, tepi pantai dibuat area ‘Privat Beach’ khusus buat turis yang nginep di losmen mereka.

Losmen gaya Bali.

Losmen Gaya Bali @Tanjung Setia.

Haiya….wat..wat..gawoh! (ada ada aja!), untung Hubby nemu satu sudut yang bisa buat mobil kami parkir yang langsung menuju ke Pantai. Langsung kami turun buat foto-foto dan mencari kerang di tepi pantai.

Surfers lagi surfing di antara debur ombak yang besar dan panjang, sedang aku nge-zoom pake camera yang jaraknya terbatas, semoga mata yg melihat nggak jadi kelilipan, sangking kecilnya gambar hehehe….

Pantai Tanjung Setia

Pantai Tanjung Setia yang bersahabat dengan surfer.

Cuaca agak mendung serta sedikit gerimis, tapi tetep aja para Surfers asyik bersurfing ria, lokasi Pantai Tanjung Setia ini, memang tujuan para Surfers manca Negara, selain ombak yang besar dan panjang, suasana yang sepi bikin para surfers betah berlama-lama disini. Setelah para fans ‘SpongeBob’ mengumpulkan aneka kerang dan siput-siput kecil, kami menyebutnya “Umang-umang”, waktunya pulang….masih ada satu objek lagi yang belum dilihat.

Fans Spongbob.

Fans Spongebob.

Para fans ‘SpongeBob’ sedang mencari kerang dan siput laut atau disebut ‘umang-umang’.

Pantai Melasti, Kec,Pesisir Selatan, Kab, Lampung Barat.

Melasti Beach.

Melasti Beach.

Pantai Melasti, kira-kira 30 menit dari Pantai Tanjung Setia, terletak di kampong Bali, Kec.Pesisir Selatan, ada kapal Tangker berbendera Panama dengan awak kapal warga Negara Thailand, yang membawa minyak mentah karam di pantai ini, akibat ombak yang besar, sang Nakhoda kapal mengira kapalnya masih di tengah laut, ternyata kapal sudah terseret ke tepi pantai, ini terjadi pada bulan September 2008, sampai hari ini kapal tangker itu masih teronggok mati tak bergerak, gimana lagi mau menggeser ‘si Monster Laut’ ini (panjang 125 m, lebar 48 m, beratnya kurang faham berapa ton) ke tengah laut???
Jadi satu-satunya jalan untuk memindahkannya, dengan cara di preteli bagian demi bagian dari badan si Monster. Kami lihat ada semacam alat pemotong besi yang besar di tepi pantai. Kata si Ata, ombak di pantai Melasti ini sudah banyak makan korban perahu-perahu kecil, tahun 2003 yang lalu, sempat ada kapal Kargo milik Jepang yang membawa bahan baku sabun yang karam di pantai ini, alhasil selama bertahun-tahun warga kampong ini tidak membeli sabun, karena ada sumber sabun dari kapal karam itu yang bisa dimanfaatkan, hehehe..lumayan….tapi kapal ini lebih beruntung nasibnya…masih bisa di tarik dengan selamat ke tengah laut, setelah isinya dikosongkan terlebih dahulu. Bocah-bocah excited banget ngelihat ‘si Monster Laut’, aku yang ngeri melihat ombak pantai Melasti, hanya bisa teriak-teriak dari atas, agar jangan dekat-dekat bibir pantai.

Monster Laut.

My Sons and "Sea Monster".

Bocah-bocah sedang melihat Monster Laut yang karam di Pantai Melasti…duh melas tenan…melihatnya.

Setelah selesai foto-foto, kami putuskan segera cepat-cepat pulang ke Bandar lampung lewat Kota Agung, kami akan menyusuri jalur pantai Pesisir Selatan, sampai ke daerah Bengkunat, lalu mulai nanjak membelah hutan Bengkunat, register 22, duh….serem amat nih hutan.

Kami meninggalkan pantai Melasti pukul 17.30 Wib, sudah sore banget…karena belum tau daerah jalan pulang ini, kami putuskan tidak akan berhenti di jalan, untunglah Ata sudah menyarankan kami mengisi bensin full tank di Liwa, bener saja…selama perjalanan pulang, kami tidak menemukan SPBU (baru nemu kembali setelah sampai di Kota Agung).

Antara pukul 18.00 – 19.00 Wib, adalah waktu yang paling mencekam dan menegangkan, saat kami melalui register 22, Bengkunat, Lampung Barat. Aku dan Hubby, sama-sama diam tidak biacara, aku tau kalo hubby juga sama kuatirnya dengan aku. Bocah-bocah berbeda reaksinya, si Bungsu tidak bicara sedikitpun, hanya si Sulung yang terus bertanya kenapa aku terus ber-istighfar. Selama menembus jalan yang membelah hutan di malam hari yang sepi dan gelap gulita, hanya lampu mobil kami yang menerangi jalan yang tidak mulus karena banyak lubang besar yang harus dilewati, aku benar-benar ‘pasrah’ pada ‘Yang Maha Kuasa’, aku sengaja mematikan CD Player mobil, menggantinya dengan memutar MP4 yang berisi Murottal ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Seumur-umur jjs pakai mobil melintas antar kota, baru kali ini aku, hubby dan bocah-bocah melintas hutan di malam gelap gulita, untungnya nggak hujan. Kami tidak menemui orang atau kendaraan satupun selama 1 jam yang mencekam itu, wuih…..dalam hati aku mikir, pantes aja si Ata, gak mau milih rute ini kalau mau ke Bandar lampung, ini dia sebabnya!!! Serem…bo!!! Mana lagi aku nemuin banyak pohon tumbang di kanan kiri jalan, untung tidak sampai menghalangi jalan. Jadi mobil kami masih bisa lewat. Aku nggak bisa ngebayangin kalau sampai mobil kami mogok di tengah hutan, misalnya pecah ban, mesin ngadat atau kehabisan bensin!!! dan tidak ada sinyal selular pula, lengkap sudah! walah….jangan sampai deh!!!

Suir……cobain deh, kalo mau menaikkan adrenalin petualang, bisa lalui rute ini di malam hari, hehehehe…..jujur aja, aku tuh takut sama rampok! Bisa aja kita ketemu rampok yang di jalan biasa disebut gerombolan ‘Bajing loncat’ yang suka menghadang saat mobil kita berjalan lambat karena ada jalan rusak. Apalagi senjata rakitan banyak beredar dan dipakai oleh gerombolan perampok. Selain itu hewan liar bisa aja sewaktu-waktu muncul. Coba kalo kawanan gajah yang keluar, apa nggak heboh…..!

Setelah 1 jam yang mencekam…baru deh kami ketemu sama orang yang naik motor, nggak lama kemudian nemu mobil truk yang sedang merayap naik. Duh..tenang deh…, kata hubby..ini baru hutan di Lampung, belum hutan Kalimantan, hutan Papua,…dan hutan tropis diseluruh Indonesia. Hihihi…..sungguh kami baru kali ini mencoba jalur lintas barat pulau Sumatera, khususnya Lampung barat dan Tanggamus. Nggak lama kemudian kami mulai melihat cahaya lampu dari kejauhan, dan tanaman-tanaman peladangan di kanan kiri jalan. Berarti sudah ada penduduk kata hubby, akhirnya cahaya kelap kelip lampu di Kota Agung, Tanggamus, terlihat dari atas bukit.

Alhamdulillah…..leganya, melihat adanya tanda-tanda kehidupan. Nah..si Ata tiba-tiba telpon, karena sudah dekat tiang BTS jadi sudah bisa masuk sinyal HP, aku bener-bener heboh ngasih comment terhadap jalur lintas hutan yang baru kami lalui, si Ata malah ketawa-ketawa, dia bilang itu jalur aman, makanya dia nggak kuatir merekomendasikan kami melalui jalur itu. Iya tapi tetep aja bikin kami dag dig dug….

Kami memutuskan mampir ke SPBU, lalu langsung tancap gas menuju Bandar Lampung. Tiba di rumah tepat pukul 21.40 Wib. Akhirnya….selesai juga kisah perjalanan yang seru, moral catatanku kali ini, selalu pastikan bensin terisi penuh kalau mau jalan jauh dan jangan jalan malam hari di daerah yang belum pernah dilalui, kecuali kalau kamu termasuk Nekad Traveler…hehehehehe……Peace !!!.

Oleh: adhe | Februari 4, 2008

Tetap semangat kawanku!

Beberapa hari yang lalu, tepatnya di suatu sore menjelang maghrib, tiba2 Hp ku berdering, hm…ini sohibku nelpon paling mau kasih tau ‘our project’ lum kelar. Yah..aku dah ngerti deh, kudenger khabar bahwa sohibku ini sedang sakit.

“Mbak, maaf ya…kerjaannya baru bisa diambil hari selasa,” kata pembuka dari sohibku,

“Ndak apa2 de’, aku juga ngerti kamu lagi sakit”, kataku pelan,

“Mbak, aku mau nenangin diri dulu, rasanya aku blum siap dg kenyataan yg harus kutrima saat ini!”,

“Lho…emang segawat itukah?”, swear aku kaget juga.

Singkat kata kami terlibat pembicaraan yg lumayan serius. Sebelumnya aku mau ngejelasin dikit ’bout Profile sohibku yg baik ini, dia seorang career woman + housewife , dia lebih nyaman buka kantor dirumah (beda dg aku, yg lebih suka kantor nggak gabung dg rumah, biar kalo udah pulang ke rumah kaga mikir urusan kantor lagi!), orangnya halus, lembut peribahasanya dan sabar banget, mukanyanya cakep, hm..mirip Alda Risma, cuma sohibku ini kaga se-sexy Alda, he..he.. selama aku berteman baik dg dia sejak di bangku kuliah dulu, kami sempat magang kerja di kantor yg sama, hubungan kami lancar2 aja nggak ada yg namanya ‘koslet’. Trus kami berpisah selama beberapa waktu, eh..ketemu lagi di sini, ternyata sohibku ini milih wilayah kerja yg sama denganku, karena suaminya seorang dokter spesialis yg ditempatkan di wilayah yg sama. Tersambung lagi deh hubungan silaturahmi kami. Nah…bukan hanya sohibku ini aja yg baik hati tapi suaminya juga sama baiknya, gimana nggak lha kalo aku periksa kesehatan ke beliau, selalu tidak mau dibayar, waduh…aku kan nggak mau hutang budi, saran dari suamiku, kalo aku berkunjung ke rumah sohibku ini, bawain aja kue2 bakery, kan kesannya lebih pantes aja, he..he…so tiap aku travelling atau keluar kota, aku selalu inget tuk bawa oleh2 buat sohibku ini. Begitu juga sebaliknya. Pokoke baik banget ini sohibku, apalagi dia ini “Paling Pandai & Teliti” untuk mengerjakan projek pekerjaan yg biasa kami olah bersama.

Kembali ke permasalahn serius yg dialami oleh sohibku ini, ternyata di terserang “Kanker Rahim Stadium I”,….Astaghfirullah, aku ndak bisa ngebayangin gimana sedihnya sohibku ini, karena ada tumor ganas yg bersarang di Rahimnya, dan harus diangkat, kemungkinan terburuk, rahimnya juga harus diangkat!

Hal inilah yang menjadi puncak kesedihannya, Rahim itu ibarat ‘wadah/sarana’ dimana seorang istri dapat melayani suaminya dengan baik dan menjadi kebanggaan seorang istri, apalagi usia kami belum mencapai 40th. Masih cukup panjang waktu untuk nyenengin suami secara biologis. Aku hanya bisa diam, dan berusaha berpikir keras untuk menghibur dia.

Aku hanya bisa memberikan masukan yg membangun semangatnya agar bangkit & kuat kembali, bahwa semua ini ‘sudah ada dalam skenario hidup’ yang Tuhan berikan pada dirinya, ada hikmah yang besar dibalik ini semua, aku bilang bahwa dia akan ‘naik peringkat keimanannya’ dan sesungguhnya ALLAH SWT begitu mencintainya. Ada sedikit pesan buat sohibku yg tercinta ini, bukalah Al-Qur’an mu setiap hari dan bacalah dg niat karena ALLAH semata, bacalah sesuai dg kemampuanmu, sedikit tapi rutin setiap hari itu lebih dicintai ALLAH, karena ALLAH tidak pernah menuntut banyak dari hambaNYA, jika engkau mendatangiKU dg berjalan maka AKU akan mendatangimu dg berlari, itulah janji ALLAH bagi hambaNYA yg istiqomah dalam iman.

Akhirnya, sohibku sudah berangsur tenang, bahwa ini semua sudah menjadi ‘kehendak ALLAH’ dan dia harus melaluinya dengan ikhlas dan tetap berikhtiar untuk sehat kembali, aku bilang ke sohibku ini, bahwa dia masih lebih beruntung dari pada ‘orang lain yg punya penyakit yg sama’, karena suaminya adalah seorang dokter, sehingga faktor pengobatan secara detail & rutin bisa didapat oleh sohibku ini.

“Ya ALLAH, berilah kesehatan & kekuatan iman kepada sohibku tercinta ini, semoga segala ikhtiar yang dia lakukan diterima di sisiMU, amien ya Rabbal’alamien”.

Tabik, 26 Muharram 1429H / Feb 4th’08, 10.00 Wib

Oleh: adhe | Februari 4, 2008

ESQ 165

Nggak terasa sudah 2 tahun yang lalu, aku mengikuti trainee seminar ESQ 165, Alhamdulillah aku selalu dilibatkan oleh Korwil untuk ikut kegiatan dari FKA (Forum Komunikasi Alumni), banyak manfaat yg bisa didapat, minimal kita bisa sedikit berbagi kasih dg sesama saudara seiman.

Jum’at 1 Feb 08 kemarin, ada pertemuan untuk evaluasi dari kegiatan FKA, seperti biasa setiap pertemuan selalu ada hikmah yang bisa dipetik. Hanya untuk satu hal yang mungkin sulit aku lakukan, menangis…, rasanya sulit aku menangis didepan orang banyak, sedang rekan2 yg lain bisa menangis tersedu-sedu, bukannya aku nggak peka dg renungan & tausiyah yg diberikan, mungkin aku agak ‘introvert’ untuk menunjukkan perasaan ‘haru’ku. Menangis merupakan sesuatu yg agak pribadi, jadi kalo mau nangis mungkin lihat kondisinya dulu, he..he..

Dari pertemuan itu, aku dapat informasi penting dari Pak Ary G, saat beliau ke State, tgl 13 Jan 08 yg lalu, bahwa begitu mudahnya orang mau bunuh diri di ‘Golden Gate’, bahkan disediakan telpon di pojokan jembatan, agar orang yg mau ‘suicide’ bisa menghubungi kerabatnya sebelum dia terjun bebas ke dasar jembatan, ada semacam himbauan yg ditempel di pagar jembatan “There is hope make the call”, jadi siapa tau tuh orang bisa berubah pikiran dan mengurungkan tindakan nekadnya setelah dia menelpon kerabatnya, tapi bisa juga dia “say good bye”, duh….ternyata implikasi dari ‘kemajuan & kemapanan’ hidup di state tidak menjamin orang kuat menghadapi tekanan hidup. Kita bisa melihat ada orang yg habis bunuh diri, jika kita melihat ada kotak or koper yg ditinggalkan pemiliknya di samping pagar jembatan. Sekedar informasi, sejak jembatan itu dibangun sampai th 1998 sudah 5000 orang yg mati bunuh diri, akhirnya pemerintah AS menutup case itu sampai kini, bisa dibayangkan sudah tambah berapa korban yg tidak terdata sejak 1998 sampai kini.

Intinya, kehidupan itu harus ada pegangan ‘spiritual’, kehidupan dunia yg penuh tekanan jika tidak dihadapi dg ‘keikhlasan untuk mengembalikan semua persoalan hidup kepada Yang Maha Kuasa’, kita hanya hamba yg diberi keterbatasan, dengan menyadari fitrah itu kita sadar bahwa kita ini nggak ada apa2, kita lahir dalam keadaan telanjang dan saat dikubur hanya memakai kain kafan, nggak ada apa2 yg dibawa kecuali ‘amal jariyah, do’a anak yg sholeh dan ilmu yang bermanfaat’.

Memang ada baiknya kita hadir dipertemuan-pertemuan yang dapat me recharge jiwa & hati kita agar selalu istiqomah dalam iman.

Tabik, 26 Muharram 1429/ Feb 4th’08, pk. 09.35 Wib 

Oleh: adhe | Januari 15, 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Kategori